Saya adalah salah satu wanita
muda yang suka berbisnis, berbisnis yang saya jalani sampai hari ini adalah
jual beli online, ada banyak sekali barang yang saya jual belikan, mulai dari
baju, jam tangan, hingga dulu pernah jual produk kecantikan. Modal?? Tidak butuh,
saya hanya bermodal handphone dan berani posting. Istilah kata saya jadi
makelar, menjual dan menawarkan barang orang lain, jika ada yang berminat? Baru
saya ambilkan terus drop ke pembeli. Bener-bener tanpa modal!! Bisnis online
ini sudah lama saya kenal dari tahun 2012 lalu, awalnya saya hanya diajak teman
deket untuk coba peruntungan jual beli disini, alhasil saya ketagihan dan malah
jatuh cinta dalam dunia bisnis ini, 2 tahun sudah saya jalani, alhamdulillah
banyak menuai keuntungan. Meskipun lebih mudah dibanding bisnis secara offline, bisnis online juga memiliki resiko, untuk saya yang saat itu
bener-bener newbie, saya harus belajar banyak dari pengalaman-pengalaman pahit.
Satu cerita pengalaman saya
tentang resiko bisnis online adalah berikut, wolees, minum dulu .hehe.. oke,
sudah .. saat itu saya bertemu dengan supliyer baru saat pengiriman barang di
JNE, saya kenalan dan berbagi no pin BB, saat sudah se hay di BBM, saya langsng
follow up tempat jualan dy, dia pemain olshop yang keren, dy sudah mampu stock
barang yang banyak .. dan semua barang itu hanya dia jajakan lewat media sosial
dan BBM, dan lagi saat itu saya rasa harga yang ditawarkan, lokasi dia juga
cukup dekat dengan tempat tinggal saya. oke akhirnya saya putuskan untuk
menjalin kerja sama dengan mbak siapa, lupa saya mananya, sebut saja bunga
(bukan nama sebenarnya),hehe . Beberapa kali posting baju dari mbak bunga, ada
satu pembeli nyantol dan tertarik untuk order, dia order langsung 5pcs 1 model,
wah .. rejeki nomplok bukan?saya yang sebelumnya belum pernah menjual ebih dr
2pcs dlm 1 model baju langsung saya terima orderan tersebut, saya iya kan pesenan
dia, dan dia meminta untuk segera dikirim, nanti uangnya saat COD ( cash on
delivery), transaksi dengan pembeli saya oke, saya langsung pesankan ke mbak
bunga “mbak, saya pesan baju kode blablabla 5pcs ya”, iya.. bisa tapi no cancel
ya, jawab mbak bunga dalam BBMnya, . iya mbak siap, mungkin lusa saya ambi,
semangat saya dalam orderan yang saya rasa cukup banyak saat itu. Oke, barang
sudah keep itu pesenan saya. Keesokan harinya, saya konfirmasi lagi ke pembeli
saya, untuk memastikan pesanan dan total order dia, saya cari di list obrolan
di BBM, tidak ada jejaknya. Oh, mungkin ke end chat “kata hati saya”, saya cari
di daftar kontak BBM, satu persatu dari 300an kontak tidak ada, ternyata saya
di delcont. Wah di delcont?terus orderan dia yang sudah saya pesankan
bagaimana?siapa yang membeli nantinya?, akhirnya saya coba konfirmasi ke
supliyer dan menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang barusan saya alami, ternyata
mbak bunga gak mau tau tentang keadaan saya, dia memaksa saya untuk tetap harus
membeli barang yang sudah saya pesan, 5pcs baju denim atasan yang saat itu seharga
60rb, jadi total 60.000x5pcs 300.000, atau kalau tidak dia akan memblacklist
kontak BBM saya. Saya yang saat itu belom memiliki modal yang banyak, belum
sanggup untuk ‘membeli’ dulu barang tersebut, dan akhirnya saya iya kan kalau
dia mau memblacklist BBM saya dari BBM.nya, saya pikir di blaclist itu hanya di
masukkan daftar pembeli hitam yang mungkin responnya akan lebih lambat dari
respon pembeli lain, tapi ternyata lebih dari itu, pin saya di sebarluaskan (broadcast)
dan dijelek-jelekkan di semua kontak yang dia punya, dibilang saya penjual
amatiran, pembeli tidak bertanggung jawab bahkan penipu.. masyaAllah, sakit
hati saya saat menerima BC tersebut, tapi saya juga menyadari, itu adalah
kesalahan saya, saya teledor dalam menerima orderan dan tidak memastikan
orderan tersebut, karena saya pikir supliyer saya sudah cukup besar, dan kalau
pun dijual di selain saya sudah pasti laku, tapi sistem berkata lain . yah,
Alhamdulillah jadi punya pengalaman yag bisa dijadikan pembelajaran.
Setelah bertahun-tahun
berkecimpung, dan menikmati jual beli online ada banyak pelajaran dan
kenikmatan dari bisnis online. Omset tidak pernah saya hitung pasti.hehe, tapi
alhamdulillah setidaknya sudah bisa mewujud menjadi laptop AMD A8 seharga 5juta,
bayar kuliah tiap semester dari semester 3 lalu, dan biaya hidup mandiri,
kecuali makan sehari-hari. Sangat bersyukur katas nikmat kemampuan yang diberi
Allah kepada saya melalui jual beli online, sehingga saya tidak perlu
merepotkan orang tua lagi. namun orderan dengan hampir tiap hari mampir ke
rekening saya, saya merasa seperti disetir oleh keadaan ini, dimana pada
saat-saat saya tidak mendapati orderan pada beberapa hari, pikiran saya kacau,
mood saya terbawa emosi dan marah-marah, ada perasaan kecewa dan kecil. Saya jadi
pribadi yang merasa sangat kekurangan, saya kehilangan arah. Sampai akhirnya
saya putuskan untuk sholat dan menyendiri, diam dan berdzikir. Apa yang salah
saya hamba? Apa saya kurang sodaqoh? Apa saya terlalu kikir?? Namun lebih dari
itu, saya menemukan jawaban dengan pesan Allah dam kitabnya “Fabi ayyi alai
rabbikuma tukazziban” petikan surah ar-Rahman tersebut diulang-ulang banyak
sekali yang artinya “Nikmat tuhan kamu yang manakah kamu dustakan”. Saya jadi
tersadar dan semakin merasa tertampar, tersadar akan kekurangan diri ini lebih
parah!! Kekurangan akan syukur atas nikmat yang sudah Allah berikan, nikmat
fisik lengkap (nikmat melihat, mendengar, kesehatan, keluarga yang utuh,
kehidupan yang cukup, oksigen kehidupan yang gratis, dll) hidup kaya itu bukan
berarti kita memiliki segudang uang yang bertumpuk-tumpuk, Hidup kaya itu
bahagia dan mampu bersyukur dengan keadaan yang ada pada diri kita, sehingga
hati lebih tentram. Memang itu tidak mudah, butuh latihan ekstra untuk benar-benar
menerapkan bersyukur tanpa syarat. Namun ketika kita bisa dekat dan mendekatkan
diri kepadaNya, memasrahkan dan sadar bahwa dunia ini sementara serta segala
yang kita punya hanya titipan, InsyaAllah itu memudahkan hati kita lebih
tentram.
Tulisan ini dibuat di kantor
kerja saya, perusahaan Bongpay Surabaya 18Agust14
Semoga bermanfaat bagi pembaca
terutama penulisnya juga.
Jazakumullah, wassalamualaikum
Wr.Wb

